pewresearch

pewresearch:

How do people around the world view extramarital affairs, gambling, homosexuality, having an abortion, sex between unmarried adults, drinking alcohol, getting a divorce and using contraceptives? Our new Global Morality Interactive has the data.

— standar moral (di media), sering jadi pertimbangan materi konten di rapat redaksi 

Doing journalism with data: first steps, skills and tools (European Journalism Centre) ~

jadi nih, saya daftar kursus online ini sekitar awal November 2013; waktu itu pengumumannya si kursus ini akan mulai awal 2014.

januari… februari… belum ada kabar juga; sempet kepikiran, “hah apa nggak jadi ya?” karena di situsnya, datajournalism.net, juga belum ada informasi.

dan akhirnya dapet email bahwa si kursus akan berlangsung mulai 19 mei 2014 via canvas network #antusias :)

akan ada lima modul utama seperti tampil di video di atas, dari orang-orang ya cukup bisa dipercaya sebagai ahli soal data journalism.

di email juga, dijelaskan bahwa nanti akan ada materi via video, bacaan, ada tugas juga, tutorial produksi dan penggunaan tools, juga diskusi kelompok gitu.

harusnya akan menyenangkan, karena selain materinya menarik, juga akan belajar bareng praktisi dan akademisi bidang jurnalistik dari berbagai negara.

ya saya juga akan coba share serapan dari kursus ini di tumblr juga ;-)  

salah satu yang lagi jadi tren belakangan ini: visualisasi data

tapi visualisasi di sini nggak bisa hanya mempertimbangkan faktor artistik; ada pakem yang mesti diketahui.

dan situs katalog ini menurut saya oke banget untuk membantu kita terkait urusan visualisasi data.

dalam setiap detail jenis visualisasi ada deskripsi, fungsinya untuk apa, anatomi, variasi penggunaan, contoh, bahkan tools yang bisa digunakan untuk membuat visualisasi yang dijelaskan.

klik tautan jika tertarik mengunduh journalism, media, and technology predictions 2014. beberapa poin di dalamnya:

  • organisasi/perusahaan media akan memprioritaskan penyajian konten di perangkat mobile (ponsel, tablet); dalam bentuk aplikasi pun mobile web yang responsif berbasis html5.
  • media televisi akan semakin serius mengembangkan format digital dan mudah diakses lewat gadget yang tersambung internet.
  • konten video dan long-form/narrative storytelling akan jadi fokus utama untuk menyajikan materi jurnalistik berkualitas. buzzfeed dan huffington post sudah mengerahkan upaya berbelok ke laporan panjang dan mendalam (salah satunya, merekrut banyak jurnalis yang punya spesialisasi membuat laporan panjang atau investigasi, akhir 2013 silam); diprediksi pemain lain akan mengikuti mereka.  
  • konten berkualitas itu pula yang akan membuat eksperimen paywall atau konten berbayar akan semakin ramai diuji organisasi/perusahaan media massa tahun ini.
  • data scientist/teams akan jadi unit baru di redaksi media massa, sebagai pusat riset dan pengembangan konten dan teknologi.

prediksi ini dibuat nic newman; juga menggarap reuters institute digital news report yang mengamati perilaku konsumsi berita di 10 negara.

video di atas bikin saya pingin share tentang citizen journalism, pernah dengar istilah itu kan ya?

wartawan kompas dan pengelola kompasiana, pepih nugraha (dalam bukunya citizen journalism: pandangan, pemahaman, dan pengalaman), mengutip pendapat mark glaser (mediashift):

jurnalisme warga merupakan kegiatan orang tanpa kecakapan dan pelatihan khusus sebagaimana dimiliki jurnalis profesional, dengan teknologi komunikasi sederhana yang mereka miliki dapat melakukan peliputan, pemuatan, sampai pendistribusian berita melalui media online (internet).

istilah ini mencuat sejak awal era media sosial, ketika kesempatan menerbitkan konten secara online terbuka untuk banyak orang; dan semakin jadi bahan perbincangan dalam studi jurnalistik saat kolumnis suratkabar dan gillmor merilis buku berjudul we the media.

dan seperti kebanyakan jargon lainnya, ada saja yang tidak sepakat atau meragukan ketepatan istilah tersebut; termasuk saya.

dan menurut saya, istilah tersebut tidak perlu. kenapa?

jurnalisme sebagai profesi

menurut kamus besar bahasa indonesia (kbbi):

jur·na·lis·me n pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dl surat kabar dsb; kewartawanan;

jur·na·lis n orang yg pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dl surat kabar dsb; wartawan”

jika menempatkan jurnalisme sebagai profesi, berarti istilah “journalism” hanya bisa disematkan pada orang yang bekerja di perusahaan pers sebagai jurnalis atau wartawan.

kalau pun ada partisipasi warga di saluran media (termasuk media sosial), cukup disebut sebagai citizen reportage (reportase warga). ia bisa disebut jurnalis saat menjadi bagian langsung dari industri pers secara profesional. saklek aja.

jurnalisme sebagai kegiatan

kalau mengingat saat kuliah di jurusan jurnalistik dulu, definisi dari para pakar seperti onong uchjana effendi, astrid susanto, haris sumadiria, fraser bond, erik hodgins, hingga curtis macdougall menyatakan bahwa jurnalisme merupakan kegiatan, teknik, bahkan seni.

berdasarkan hal ini, tak hanya orang yang bekerja di perusahaan pers bisa disebut jurnalis; karena siapa pun berpeluang menguasai kegiatan, teknik, atau seni berbagi kabar dengan khalayak luas.

tapi istilah citizen journalism tetap tidak perlu, seperti juga tak harus ada istilah professional journalism; karena keduanya melakukan hal yang sama. semua bisa dan boleh mengakui diri sebagai jurnalis; perbedaannya, salah satu bisa mendapat penghasilan dari kegiatan, teknik, atau seni tadi.

ya seperti melukis saja; ada tekniknya, bisa dipelajari, banyak yang melakoninya untuk mencari nafkah, tapi tak perlu ada pemisahan pelukis profesional dan pelukis warga.

ada lagi urusan lain yang bisa menyinggung topik ini, misal soal hukum. meski kegiatannya sama-sama jurnalistik, tapi orang yang bekerja di perusahaan pers dan mereka yang berbagi kabar di media sosial masuk ke dalam bingkai hukum berbeda jika terkait soal distribusi informasi.

jadi saya pikir, buat apa dibedakan? poinnya bukan di konsep atau kegiatannya kok, tapi di lingkup yang sifatnya struktural.

dari sisi bahasa

citizen journalist biasanya diterjemahkan sebagai pewarta warga.

citizen journalism dipahami sebagai kegiatan mewartakan, yang dilakukan oleh orang yang tidak bekerja di perusahaan pers.

padahal, menurut kamus bahasa indonesia:

me·war·ta·kan v menyampaikan warta; memberitahukan; mengabarkan: di suratnya ia ~ bahwa ia sudah lulus ujian terakhir

dan jika mencari bahasa inggris dari kata “mewartakan”, hasilnya bukan “journalism” tapi “reporting”.

jadi pewarta warga atau warga yang mewartakan lebih tepat jika disebut citizen reporter, dalam bahasa inggris.

video di atas

kembali ke video yang saya muat di atas, saya sepakat dengan penjelasan yang disampaikan:

it seems to me there are differences between what a journalist does and what people online writing about what they think does, and both of those are important, both of those are valuable.

but journalist operate according to what are supposed to be standards that both the journalist and journalist’s audience can rely on.

there is a journalistic ethics, core standards.

that journalists have to made an effort to find other side of the story, other voices in the story.

that journalists have to submitted their works to the editors who have questioned them about it and push them confirm what they found out.

all those thing produce a different kind of story than the work of people who are not bound by those standards.

and there’s a room for both of those, but i would be really sorry to see the standards of journalism dismissed as unimportantly.

— video merupakan serial wawancara future journalism project, narasumber: andie tucher, direktur program phd columbia journalism school, amerika serikat.

masih ada yang suka beli majalah nggak sih?

saya masih, paling tidak satu kali dalam satu bulan (walau tidak langganan majalah tertentu); biasanya sih majalah impor seperti monocle atau esquire, karena memang suka dengan cara penyajian dan laporannya.

untuk merek lokal saya suka majalah berita mingguan tempo; selain itu free-magazine bertema gaya hidup area dan majalah pemasaran marketeers juga oke.

saya memang suka deretan majalah yang saya sebut di atas, nyaris secara menyeluruh; mulai dari cara mengemas topik dalam laporan, visualisasi, ukuran, kreativitas menentukan format artikel, sampai upaya produksi yang saya bayangkan. 

saya merasa cukup akrab dengan nama-nama tersebut, hingga merek majalahnya saja sudah cukup membuat saya tertarik untuk mengecek, “ada apa di edisi ini?” 

tapi ada pula faktor lain, yang jika terasa menarik minat, bisa jadi pertimbangan saya membeli sebuah majalah:

cover blurb

blurb ini informasi tertulis yang biasanya terdapat di sampul majalah; lazimnya memang menampilkan info ringkas satu atau beberapa artikel andalan dalam edisi yang diterbitkan. 

special report

umumnya setiap majalah punya satu laporan jagoan dalam setiap edisi; semacam special report atau cover story.

harapannya, topik yang menarik minat akan diulas mendalam di beberapa halaman, hingga kita pun puas membacanya.

contoh: sebelumnya, saya nyaris tidak pernah membeli majalah fast company, tapi karena pada edisi april ini mereka mengulas ed catmull (tokoh yang cukup saya kagumi), dalam laporan khususnya, maka saya pun membeli majalah tersebut.

special issue

semacam special report tapi diterbitkan secara khusus dan terpisah dari majalah utamanya. 

contoh: pada 18 juni 2012, pemain bas grup the beatles paul mccartney berusia 70 tahun, dan majalah time menerbitkan edisi khusus. meski bukan pembeli majalah time, tapi sebagai penggemar the beatles, saya membeli edisi khusus tersebut.

insertion

di indonesia lebih akrab dikenal sebagai sisipan. materi bonus semacam laporan khusus namun disajikan di luar menu majalah utamanya, namun dijual sepaket (bukan edisi terpisah).