Cara memaksimalkan hasil pencarian di Google

Salah satu cara paling mudah untuk mencari informasi tentang hal tertentu saat ini adalah lewat mesin pencari Google.

Istilahnya, “Tinggal googling aja.”

Supaya googling menghasilkan temuan yang paling mendekati kebutuhan, ada beberapa teknik dasar:

  • Quotation marks (tanda petik yang mengurung frasa tertentu; agar menghasilkan frasa yang persis seperti susunan kata yang terkurung tanda petik) — jika mencari frasa tanpa tanda petik, maka Google berpikir bahwa setiap kata dalam frasa itu tidak harus persis atau berurutan.

Contoh:

image

  • Minus sign (atau tanda strip; untuk mengeluarkan kata tertentu dari hasil pencarian) — di bawah ini contoh pencarian “data kemacetan jakarta” yang tidak menginginkan konten dengan muatan isi atau berasal dari media sosial seperti Kaskus, Twitter, Facebook, dan YouTube:

image

  • Wild card (atau penggunaan tanda bintang; untuk mencari subjek yang kita tidak tahu persis susunan kalimat persisnya) — contohnya, pada pencarian “data * kemacetan * jakarta” di bawah, hasil temuannya bisa “data yang ada, titik kemacetan di Jakarta” atau “data yang diperoleh Spire, kemacetan disebabkan aktivitas warga Jakarta”.

Bagian kalimat “yang ada, titik”, “di”, “yang diperoleh Spire”, dan “disebabkan aktivitas warga" merupakan hasil temuan dari penggunaan wild card (tanda bintang).

image

  • Site operator (teknik pencarian berdasarkan tautan sumber menggunakan “site:”) — bisa untuk melakukan pencarian dari situs tertentu, atau pencarian berdasarkan alamat situs.

Misal, kita ingin mencari subjek dari situs KPU, maka di kotak pencarian bisa diketik site:kpu.go.id, dan Google hanya akan menampilkan subjek yang dicari dari situs KPU.

Atau hanya mencari subjek dari situs dengan alamat .co.id, maka ketik site:co.id, dan Google tidak akan menampilkan subjek yang terdapat di situs dengan alamat .com, .net, dan lainnya.

Contoh:

image

image

Catatan tambahan:

  • Gunakan bahasa, istilah atau jargon yang lazim dipakai terkait subjek pencarian untuk memudahkan proses penelusuran.
  • Cek situs berikut ini untuk berbagai teknik pencarian di Google: Advanced search operators in Google dan Google Guide advanced search operators page.
  • Be creative. Bermain dengan kombinasi teknik pencarian; dan lakukan pencarian tentang satu topik dari beberapa sudut pandang pencarian.

google usefultools

Jenis sumber data untuk berita atau artikel

(1) Lembaga statistik negara

Daftar beberapa lembaga statistik negara termuat di Wikipedia.

Di Indonesia ada lembaga pemerintah non-departemen, Badan Pusat Statistik (BPS).

Berikut ini contoh berita yang menggunakan data dari lembaga statistik negara:

(2) Lembaga atau departemen pemerintah —

  • Menggali data dari lembaga atau departemen pemerintah yang secara spesifik terkait dengan topik yang ingin digali.
  • Atau melakukan komparasi data temuan lain dengan data yang tercatat di lembaga atau departemen pemerintah terkait.

(3) Badan atau organisasi internasional

Seperti:

(4) Pembuat kebijakan atau auditor —

Contoh, jika ingin menggali tentang isu kesehatan, bisa mempertanyakan:

  • Siapa yang membuat kebijakan tentang standar operasi layanan kesehatan?
  • Siapa yang harusnya mengawasi dan memeriksa penerapan standarisasi pelayanan fasilitas kesehatan?

Jawaban pertanyaan itu bisa jadi sasaran penggalian data terkait isu yang diulas.

(5) Organisasi non-profit atau badan amal —

Lazimnya, organisasi atau badan ini fokus pada isu spesifik dan berpeluang memiliki data yang cukup menyeluruh tentang isu khusus.

(6) Korporasi

Biasanya, sumber data ini tak merilis data yang mereka miliki secara utuh; apalagi terkait masalah yang berhubungan dengan sektor usaha yang dilakoni.

Data yang umumnya masih relatif mudah didapat dari sumber ini adalah annual/financial reports.

(7) Organisasi profesi atau serikat pekerja —

Misal: Ikatan Dokter Indonesia (IDI), atau Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

(8) Sumber lainnya —

Contoh: catatan sepak terjang dan rekor seorang pemain sepak bola oleh narablog.

Cek:

  • Siapa yang mencatat?
  • Kapan catatan itu dibikin?
  • Bagaimana teknis pencatatan dilakukan?
  • Cari data lain (dengan muatan isi sama) untuk melakukan komparasi.

datajournalism media

Bagaimana cara memilih topik yang menarik dijadikan artikel?

Pilih topik yang menurut kita menarik.

Karena, jika topik itu kita anggap menarik, ada kemungkinan orang lain merasakan hal yang sama.

Pilih topik yang menurut kita menarik karena kita peduli pada topik itu. Jika kita merasa peduli, maka kita akan lebih baik menceritakannya.

Pertanyaan teknis:

  • Apakah topik itu bisa disampaikan secara ringkas dan sederhana? Kira-kira jika kita sampaikan pada orang yang sama sekali tidak tahu topik itu, apakah ia akan cepat memahaminya?
  • Apakah topik itu terkait dengan hal yang sedang berlangsung atau sedang ramai diperbincangkan?
  • Seperti apa bentuk penyajian yang paling mungkin dilakukan? Berapa lama waktu mengerjakannya?

notes media

Formula 5W dalam “data journalism”*

(1) Who?

Data, seperti bentuk informasi lain, bisa salah.

Sumber data penting diperhatikan. Siapa yang menghasilkan dan merilis data terkait? Apakah bisa dipercaya? Apakah kebenaran data meragukan?

  • Transparan tentang sumber data itu penting;
  • Jangan cepat percaya data yang didapatkan;
  • Selidiki data dan uji akurasinya; bandingkan dengan data lain untuk menguatkan temuan menarik yang akan dijadikan materi konten.

(2) What?

Apa yang ingin disampaikan?

Jurnalis bukan akademisi, yang mengurai setiap argumen dengan landasan teori. 

Materi “data journalism” yang baik menyampaikan materi dengan cerita mengalir yang jernih dan mudah dipahami; bukan jenis materi yang lebih cocok jadi makalah pendidikan.

Ketika laporan statistik tidak khusus ditujukan untuk publik, materi “data journalism” justru harus mudah dikonsumsi publik.

Tugas jurnalis adalah memilah data, menyuntikkan konteks, menentukan pokok pikiran, dan membuatnya jadi sederhana dalam bentuk sajian yang menarik.

Contoh: Art Market for Dummies (Askmedia.fr)

(3) When?

Kapan data terkait dipublikasikan? Atau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk produksi data?

Berikut ini, beberapa contoh:

Near real-time data

Social media data

image

Sensor journalism

Crowdsourced reporting

Berbagai materi di atas bisa dibikin menggunakan berbagai tool seperti formulir dari Google Drive, dengan gambaran tahapan produksi sebagai berikut:

  1. Formulir ditampilkan dan disebarkan untuk menjaring reaksi publik;
  2. Data terjaring disunting dan dibersihkan (dari data yang tidak relevan atau berulang) oleh tim di redaksi;
  3. Data yang sudah dibersihkan diolah menggunakan Google Fusion Tables;
  4. Data itu pun menampilkan peta yang ter-update sesuai perkembangan data reaksi publik yang terus berjalan.

(4) Where?

Di mana data terkait dijaring? 

Contoh: The gun ownership and gun homicides murder map of the world (The Guardian)

(5) Why?

Mengurai maksud penyajian data lewat penentuan hubungan sebab akibat antara data dengan isu yang diulas.

* Berdasarkan materi dari Simon Rogers (Data Editor Twitter) tentang “data journalism”.

datajournalism media

4 Jenis tim “data journalism”

image

(1) Lone rangers

(2) Two-person teams

(3) Small scale team

  • Berkisar antara 4-6 orang.
  • Komposisi dasarnya: koordinator, jurnalis, desainer, programmer.
  • Biasanya, bagian dari tim redaksi yang lebih besar.
  • Contoh materi bikinan tim jenis ini: Flooding and Flood Zones map Hurricane Sandy (WNYC — 1 produser, 2 reporter, 1 desainer, 2 coder).

(4) Large team

  • Tim besar dengan kisaran 20-50 orang; khusus dibentuk karena sudah menganggap konten “data journalism” strategis untuk medianya.
  • Umumnya, bagian dari perusahaan media yang sudah mapan.
  • Contoh materi bikinan tim besar ini: 2012 Olympic Experience (New York Times — 35 anggota: ada produser, wartawan, desainer, developer, analis, spesialis media sosial, dan lainnya)

datajournalism media

Peran kerja dalam tim “data journalism”

Terkait peran, ada beberapa hal terkait penggunaan data dalam produksi “data journalism” menurut Simon Rogers (Data Editor Twitter):

  • Biasanya, data dikelola dalam fail Excel atau Numbers;
  • Peran kunci tim “data journalism” adalah pemilahan dan penyusunan data sesuai topik yang ingin diangkat;
  • Semakin sedikit angka yang digunakan dalam materi, semakin baik.

Berikut ini peran kerja dalam tim “data journalism”:

(1) Riset

  • Fase paling penting, sekaligus paling menyita waktu.

(2) Penulisan

image

(3) Pengembangan teknis

  • Programmers atau personel dengan keahlian coding dibutuhkan dalam proses riset, pengolahan data, dan visualisasi.
  • Contoh hasil: Connected China (Reuters)

image

(4) Desain dan visualisasi

  • Membuat konten tampil lebih menarik dengan visualisasi memikat.
  • Contoh: 99% vs 1% (The Guardian)

datajournalism media

Untuk pemula “data journalism”

  • Nggak perlu berusaha menyaingi The Guardian
  • Gerak cepat. Gunakan data sederhana untuk produksi banyak konten, membiasakan diri bekerja dengan basis data.
  • Jangan khawatir soal visualisasi; tak selalu dibutuhkan.
  • Tidak harus “wah”, salah satu situs yang disebut sebagai penyaji “data journalism” terbaik asal Argentina, La Nacion, memulainya tanpa programmer dan hanya mengoptimalkan software gratisan.

datajournalism media

3 Tipe konten “data journalism”*

(1) Paparan data — hanya menampilkan data apa adanya; sekadar merekam atau dokumentasi. Contoh:

  1. Le pariteur, a questionnaire to compare contrast between men and women (WeDoData)
  2. Find My School, public information about local schools (Twaweza)

(2) Pengisahan berdasarkan data — mengemas ulang data temuan dalam format cerita (misal: naratif). Contoh: 

  1. Where Do Your Members of Congress Stand on SOPA and PIPA? (ProPublica) — background information article
  2. US Election results 2012 interactive visualisation (Associated Press)
  3. Welsh children in care (Wales Online)
  4. Washington DC income gap (DC Action for Children)

(3) Analisis atau investigasi — mengurai, menggali, hingga menyelidiki data dan berujung pada materi jurnalistik yang kompleks, namun tetap penting untuk diketahui banyak orang. Contoh:

  1. Ethics Explorer, A guide to the Financial Interests of Elected Officials (Texas Tribune)
  2. 'Network of scandals' (Editora Abril)
  3. Argentina’s senate expenses (La Nacion)
  4. Datablog on Wikileaks and data journalism (The Guardian)

*Menurut Simon Rogers (Data Editor Twitter)

datajournalism media

Kenapa bisa ada istilah “data journalism”?

  1. Filter. Era media sosial bikin siapa saja bisa menerbitkan konten. Konten bertebaran, pun data percakapan dan interaksi. Penekanan pada basis data yang valid berpeluang meningkatkan kepercayaan dan mencerahkan publik di tengah riuhnya informasi yang berseliweran.
  2. Open data. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga mendesak instansi pemerintahan atau pihak swasta menerbitkan data secara terbuka. Sehingga, data itu perlu diawasi dan diselidiki kebenarannya; pers berpeluang ambil peran.
  3. Tools. Kini teknologi penunjang produksi konten berbasis data semakin banyak dan mudah digunakan; jurnalis tanpa kemampuan teknis (seperti coding) bisa menampilkan visualisasi data di media online.

datajournalism media

Beberapa petunjuk sederhana yang bisa dicatat dari gambar aturan penggunaan fon di atas:
Mengombinasikan fon sans-serif; dengan fon serif.
Atau mengombinasikan fon serif dengan fon sans-serif.
Sebaiknya tidak mengombinasikan kelas fon yang sama (contoh: serif dengan serif).
Pertahankan hanya dua variasi fon; boleh tiga, kalau kepepet…
Untuk variasi, bisa mainkan kombinasi bobot dari satu jenis fon (contoh: regular, light/thin, bold).

Keterangan:
Sans-serif: fon tanpa kaki (contoh: Arial, Helvetica)
Serif: fon berkaki (contoh: Times New Roman, Georgia)

Beberapa petunjuk sederhana yang bisa dicatat dari gambar aturan penggunaan fon di atas:

  1. Mengombinasikan fon sans-serif; dengan fon serif.
  2. Atau mengombinasikan fon serif dengan fon sans-serif.
  3. Sebaiknya tidak mengombinasikan kelas fon yang sama (contoh: serif dengan serif).
  4. Pertahankan hanya dua variasi fon; boleh tiga, kalau kepepet…
  5. Untuk variasi, bisa mainkan kombinasi bobot dari satu jenis fon (contoh: regular, light/thin, bold).

Keterangan:

  • Sans-serif: fon tanpa kaki (contoh: Arial, Helvetica)
  • Serif: fon berkaki (contoh: Times New Roman, Georgia)

notes

Internet belum mengubah dasar kegiatan wartawan


Berikut ini adalah kegiatan perusahaan pers:

  1. Memproduksi berita; wartawan bekerja, mengumpulkan, mengolah, lalu menulis berita.
  2. Lalu menyaring dan memberi penafsiran; dari puluhan berita yang dihasilkan, dipilih yang diutamakan atau yang ditempatkan di halaman depan (dengan memperhitungkan tingkat kepentingan dan daya jualnya).
  3. Dan akhirnya distribusi ke banyak orang. bisa secara fisik dalam bentuk cetak, atau disiarkan lewat radio atau televisi.

Kini, setelah nyaris dua dekade terakhir (di Indonesia), internet mengembangkan teknologi distribusi berita dan informasi ke banyak orang.

Lebih canggih, murah, dan mudah.

Khususnya, setelah media sosial semakin populer.

Tak hanya penyebaran atau distribusi, kompetisi dan sisi bisnis media (revenue model), tapi juga mengubah cara wartawan menyaring dan menafsirkan informasi.

Itu kenyataan yang sulit dibantah.

Tapi ada yang (rasanya) belum berubah, yaitu produksi berita.

Kalau kita ingin menggali apa yang terjadi di lokasi bencana; sebaiknya memang ada wartawan yang meliput langsung.

Menempatkan diri di tengah peristiwa sebagai pelapor lapangan.

Mengambil risiko; memotret; dan mewawancarai berbagai narasumber di lokasi kejadian.

Betul, saat ini ada istilah crowdsourcing. atau banyak orang menyebarkan foto bahkan video dari ponselnya, yang bisa jadi bahan laporan wartawan.

Atau, wartawan yang agak malas bisa cukup duduk di kantor dan mengumpulkan informasi dari Google atau Twitter.

Sayangnya, berita atau cerita yang bagus dan orisinal tetap membutuhkan cara produksi “tradisional” + keterampilan jurnalistik yang baik.

Dan hal (yang justru) paling dasar dari kegiatan perusahaan pers ini, menurut saya, belum banyak diubah kehadiran internet.

media